Tersebutlah tiga orang pemuda (sebut saja Arbi, Bibit, dan Adi) yang sedang mendaki gunung (ayoo…semangat!).namun, di tengah-tengah perjalanan (atau mungkin se pertiga, atau justru empat perlima perjalanan) mereka mulai menyadari bahwa ketiganya telah mengitari tempat yang sama selama beberapa jam. Mereka telah tersesat. Tak ada signal untuk alat komunikasi. Hutan begitu lebat hingga sinar matahari hanya masuk melalui celah-celah kecil. terjadilah saling menyalahkan antar ketiganya. Beberapa saat berpikir dan merenung, akhirnya mereka memutuskan untuk bersama-sama mencari jalan pulang. (horee…damai :D).
Setelah beberapa kilometer berjalan, mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudera (naon sih si ica teh..-_-) mereka menemukan suatu perkampungan. layaknya sebuah perkampungan di pedalaman, di sana terdapat rumah kepala suku, rumah-rumah penduduk,dll (dan lupa lagi). Penduduk (sebut saja) desa sukasuka tersebut hanya memiliki satu sumur sebagai sumber air yang mereka gunakan untuk konsumsi mereka sehari-hari. Namun, ternyata air sumur yang menjadi sumber kehidupan di desa sukasuka tersebut beracun.racun tersebut tidak membuat manusia langsung melepas nyawa, kulit bersisik, atau menyebabkan penyakit fisik lain,tapi mengakibatkan kelainan jiwa sehingga seluruh penduduk –termasuk kepala suku – menjadi gila.penyakit gila tersebut telah berlangsung bertahun-tahun, dari generasi ke generasi selanjutnya sehingga mereka tidak sadar akan keadaannya yang diluar batas kewajaran(ya iyalah..) mengingat semua penduduk telah gila. Mereka melakukan hal yang gila seakan-akan hal tersebut ialah hal yang biasa. Dan karena mereka semua sama-sama gila, mereka dapat berkomunikasi satu dengan yang lain. Semua menganggap dirinya waras. dunia mereka telah terbalik. Hal yang gila dianggap biasa, dan hal yang baik mereka anggap gila. Pun ketika ketiga pemuda memberitahu bahwa racun dalam sumur membuat mereka gila, mereka malah balik berkata bahwa tiga pemuda lah yang gila.fren, di mata para penduduk, ketiga pemuda lah yang gila.
Ketika para pemuda bertanya jalan pulang, penduduk desa sukasuka malah menunjukkan jalan menuju puncak gunung (nah loh,..). hal itu terjadi berulang-ulang sampai akhirnya mereka bosan. Kini mereka memiliki dua pilihan. Tinggal di desa tersebut untuk selamanya yang berarti ikut gila bersama penduduk desa sukasuka karena tak ada alternative sumber air yang lain, atau memberanikan diri mencari jalan pulang dengan resiko yang sangat besar. Penduduk desa sukasuka sebenarnya ramah dan menunjukkan hal yang sepertinya biasa-biasa saja. jika mereka tinggal di desa tersebut dan sama-sama gila,mereka dapat bergaul dan hidup dengan tenang di desa tersebut. walaupun ketiga pemuda tahu bahwa mereka gila dan banyak hal yang tak waras yang mereka lakukan. Namun, jalan pulang begitu terjal, penuh risiko, dan satu lagi, jika mereka mencari jalan pulang, berarti penduduk desa sukasuka tak akan pernah menerima mereka lagi jika kemudian tersesat.
Terkadang kita dihadapkan pada suatu situasi yang kita justru tidak sadar akan keadaan kita sendiri. Seperti para pemuda yang tak sadar telah mengitari tempat yang sama selama beberapa kali sehingga tak kunjung mencapai tujuan. Itulah kita ketika asik dengan kegiatan yang sebenarnya tak mendukung terhadap visi hidup kita. Malah menyia-nyiakan waktu, bahkan membuat kita justru membelok dari tujuan awal. Nah, pertanyaan selanjutnya…(sebelumnya yang mana?) siapakahyang gila dalam cerita tersebut?penduduk sukasuka, atau pemuda? Lalu, apa yang harus dilakukan pemuda tersebut?menjadi bagian dari penduduk yang gila, atau mencari jalan pulang dan alternative sumber air yang lain?
Kawan, cerita tersebut sebenarnya kisah nyata dari kehidupan kita kini. Ketika penduduk dunia sudah gila, menganggap hal yang gila sudah biasa dan sebaliknya, hal yang baik dikatakan gila. Ketika korupsi dianggap bagian dari budaya, penganiayaan dan pemerasan dianggap sesuatu yang wajar, pelanggaran hukum sudah biasa (toh sekarang hukum bisa dibeli), atau bahkan hal yang terdekat dengan kita: hedonisme mahasiswa telah menjadi hal yang wajar. Perayaan hari-hari special yang diisi dengan ritual ‘teu puguh’, saat lebih banyak yang terpesona dengan warna-warni majalah fashion daripada mempelajari Al-Quran, maraknya anggapan gak punya pacar= culun punya, dan banyak lagi hal gila yang telah dianggap sebagai hal yang biasa.
Astagfirullah…
Sekaranglah waktunya untuk memlih kawan. Waktunya untuk menentukan sikap, apakah kita akan ikut minum air dari sumur beracun –gila bersama dunia ini, ataukah kita akan mencari sumur baru? Pun ketika kita menemukan sumur baru yang sehat itu, kita akan dihadapkan pada dua pilihan: Menggunakannya hanya untuk kita sendiri bersama orang-orang tertentu saja yang artinya kita memegang teguh kebenaran itu, tapi hanya untuk diri kita sendiri, atau kembali ke desa suka-suka dan berbagi sumur itu bersama mereka –memegang teguh kebenaran, mengajak orang lain padanya, dan berusaha membuat perubahan pada dunia yang gila ini?
Wallahua’lam bishshawab.
Setelah beberapa kilometer berjalan, mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudera (naon sih si ica teh..-_-) mereka menemukan suatu perkampungan. layaknya sebuah perkampungan di pedalaman, di sana terdapat rumah kepala suku, rumah-rumah penduduk,dll (dan lupa lagi). Penduduk (sebut saja) desa sukasuka tersebut hanya memiliki satu sumur sebagai sumber air yang mereka gunakan untuk konsumsi mereka sehari-hari. Namun, ternyata air sumur yang menjadi sumber kehidupan di desa sukasuka tersebut beracun.racun tersebut tidak membuat manusia langsung melepas nyawa, kulit bersisik, atau menyebabkan penyakit fisik lain,tapi mengakibatkan kelainan jiwa sehingga seluruh penduduk –termasuk kepala suku – menjadi gila.penyakit gila tersebut telah berlangsung bertahun-tahun, dari generasi ke generasi selanjutnya sehingga mereka tidak sadar akan keadaannya yang diluar batas kewajaran(ya iyalah..) mengingat semua penduduk telah gila. Mereka melakukan hal yang gila seakan-akan hal tersebut ialah hal yang biasa. Dan karena mereka semua sama-sama gila, mereka dapat berkomunikasi satu dengan yang lain. Semua menganggap dirinya waras. dunia mereka telah terbalik. Hal yang gila dianggap biasa, dan hal yang baik mereka anggap gila. Pun ketika ketiga pemuda memberitahu bahwa racun dalam sumur membuat mereka gila, mereka malah balik berkata bahwa tiga pemuda lah yang gila.fren, di mata para penduduk, ketiga pemuda lah yang gila.
Ketika para pemuda bertanya jalan pulang, penduduk desa sukasuka malah menunjukkan jalan menuju puncak gunung (nah loh,..). hal itu terjadi berulang-ulang sampai akhirnya mereka bosan. Kini mereka memiliki dua pilihan. Tinggal di desa tersebut untuk selamanya yang berarti ikut gila bersama penduduk desa sukasuka karena tak ada alternative sumber air yang lain, atau memberanikan diri mencari jalan pulang dengan resiko yang sangat besar. Penduduk desa sukasuka sebenarnya ramah dan menunjukkan hal yang sepertinya biasa-biasa saja. jika mereka tinggal di desa tersebut dan sama-sama gila,mereka dapat bergaul dan hidup dengan tenang di desa tersebut. walaupun ketiga pemuda tahu bahwa mereka gila dan banyak hal yang tak waras yang mereka lakukan. Namun, jalan pulang begitu terjal, penuh risiko, dan satu lagi, jika mereka mencari jalan pulang, berarti penduduk desa sukasuka tak akan pernah menerima mereka lagi jika kemudian tersesat.
Terkadang kita dihadapkan pada suatu situasi yang kita justru tidak sadar akan keadaan kita sendiri. Seperti para pemuda yang tak sadar telah mengitari tempat yang sama selama beberapa kali sehingga tak kunjung mencapai tujuan. Itulah kita ketika asik dengan kegiatan yang sebenarnya tak mendukung terhadap visi hidup kita. Malah menyia-nyiakan waktu, bahkan membuat kita justru membelok dari tujuan awal. Nah, pertanyaan selanjutnya…(sebelumnya yang mana?) siapakahyang gila dalam cerita tersebut?penduduk sukasuka, atau pemuda? Lalu, apa yang harus dilakukan pemuda tersebut?menjadi bagian dari penduduk yang gila, atau mencari jalan pulang dan alternative sumber air yang lain?
Kawan, cerita tersebut sebenarnya kisah nyata dari kehidupan kita kini. Ketika penduduk dunia sudah gila, menganggap hal yang gila sudah biasa dan sebaliknya, hal yang baik dikatakan gila. Ketika korupsi dianggap bagian dari budaya, penganiayaan dan pemerasan dianggap sesuatu yang wajar, pelanggaran hukum sudah biasa (toh sekarang hukum bisa dibeli), atau bahkan hal yang terdekat dengan kita: hedonisme mahasiswa telah menjadi hal yang wajar. Perayaan hari-hari special yang diisi dengan ritual ‘teu puguh’, saat lebih banyak yang terpesona dengan warna-warni majalah fashion daripada mempelajari Al-Quran, maraknya anggapan gak punya pacar= culun punya, dan banyak lagi hal gila yang telah dianggap sebagai hal yang biasa.
Astagfirullah…
Sekaranglah waktunya untuk memlih kawan. Waktunya untuk menentukan sikap, apakah kita akan ikut minum air dari sumur beracun –gila bersama dunia ini, ataukah kita akan mencari sumur baru? Pun ketika kita menemukan sumur baru yang sehat itu, kita akan dihadapkan pada dua pilihan: Menggunakannya hanya untuk kita sendiri bersama orang-orang tertentu saja yang artinya kita memegang teguh kebenaran itu, tapi hanya untuk diri kita sendiri, atau kembali ke desa suka-suka dan berbagi sumur itu bersama mereka –memegang teguh kebenaran, mengajak orang lain padanya, dan berusaha membuat perubahan pada dunia yang gila ini?
Wallahua’lam bishshawab.
